Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Agustus 2008

Falling in LUv


Hatiku berbunga
Getarku mulai mengada
Bayang senyummu yang menggoda
Tak jera mengetuk jiwa

Kutemukan benih rasa
Yang tak kutahau itu apa

Tapi aku melayang
Di sudut gelap yang kubaca terang
Dan aku tahu, aku jatuh cinta...


Malam ini bayangmu kembali hadir
Dan rasa itu makin deras mengalir

Kubuka hatiku
Yang dulu begitu rapat membeku

Sejuta warna
Bereteriak suarakan rasa

ketika kesakitan itu datang


Ruang

Sel sel tubuh ini nian mendidih
Menghembuskan satu kekhawatiran
Akankah satu penentu hidup ini sirna?

Jerit tangis terus kusesakkan
Rintihan perih makin kulahap
Dalam terkaparanku
Di pojok ruang satu jendela
Lilin berangaka '19'
Menjadi api pembakarku
Di ruang yang kurasa dingin dan angker

Vincentius 4-2
Ragaku berkata
Bercerita
Dan meronta....
Malaikatku...
Aku butuh tanganmu yang terbuka
Jauh membawaku ke sana
Melesat tak terbatas



Malaikatku...
Atom cinta ini makin membelenggu
Dan menyusup di antara celah-celah keraguan



Malaikatku...
Adakah kau disini
Dihimpitan darah dan daging
Di antara hujan dan air
Karena aku, menunggumu...

Minggu, 03 Agustus 2008

Puisi Lagee...

Engkaulah Lelakiku

Kutunggu dirimu di malam tiba

Detik nadiku memanggil ragamu

Seperti dulu

Saat kau peluk diriku

Tubuh kita menyatu

Dalam remang kotaku

Yang kini makin kusam

Setelah kau menghilang

Engkaulah lelakiku,

Penguras jiwa dan pikirku

Kurasakan kuteguhan hatimu


KARENA CINTA

Aku merasa begitu sempurna

Sejak mengenal semburat cinta di wajahmu

Aku seperti bermahkota

Sejak hatiku berkata ada yang tercipta…cinta

Tulangku yang begitu ringkih

Kini menjelma kuat, sekuat baja

Seolah ingin melindungimu slalu

Keraguanku melangkah

Kini menjadi lelarian kuda

Untuk bisa dapat senyum kecilmu

Aku begitu hebat…sangat hebat

Mungkin…

Karena cinta


SUNGGUH

Sungguh…

Dunia terasa indah setelah aku mengenalmu

Mengerti arti tatapan sayumu

Membaca lengkung alismu

Dan mencermati bibir tipismu

Sungguh…

Alam yang marah,badai yang meruah,bencana yang tak lelah

Tertutup oleh bisik hatimu

Sungguh…

Puisiku & Puisimu

Setia

Aku menunggumu di sore itu

Ketika matahari mulai malu

Menunduk tersipu

Ketika angin menyapu pelan

Dan menghantarkan sebuah pesan

Berbisik kau pasti datang

Aku masih menunggumu di sore itu

Meski mataku belum juga

Bertemu wajahmu

Aku masih setia

Menanti sang pujaan tiba

Aku tetap menunggumu

Sampai suara adzan membuatku terkesima


KETIKA

Ketika petang mulai menepi

Dan akhirmya dirimu menghampiri

Dimanakah

kankusandarkan peluh

Selain dadamu yang biasa memeluk

Semenjak bibirmu mengucap pamit pergi

Aku mulai ragu lanjutkan langkah ini

Dimanakah jiwa ini berbagi

Selain dadamu yang slalu mengobati

Tatkala semangatku berhenti

Saat api ini tiba-tiba mati

Dimanakah akan kutemukan lagi

Ketenangan dan keutuhan cinta

Selain rengkuhanmu yang kutemukan di dada

Yang kau miliki wahai pesona

Masih tentang Rinduku

PAGI

Ada kalanya sang buih menghampiri

Tak jarang pula ia menjauhi

Anak-anak ombak berbisik

Menyampaikan pesanmu

Untuk jiwaku

Aku akan pulang

Kembalikan rindu yang begitu meradang

Demikian ucapmu berjanji

Saat kau akan pergi

Di suatu pagi


KAMUFLASE


Kugoreskan sebait puisi untukmu,

Wahai kau malaikat kecilku…

Agar kau mampu pahami merindunya jiwa ini

Lirih suaramu memanggilku…

Dan, aku datang

Lalu kita berdendang

Kubuka mata, kau tetap tiada

Puisi ini memang untukmu,

Kutulis di malam kelam,

Saat musim hujan jadi teman

Bercerita…

Di balik jendela


RINDU II

Hariku begitu resah

Menunggu hadirmu

Seperti petang yang menanti malam

Dan rindukan bintang

Seperti fajar yang menunggu mentari

Untuk menyapa pagi

Anganku beranak,

Melayang harapkan pelukmu

Aku & Dirimu

Aku sama sepertimu

Bersujud padanya

Untuk mimpi kita

…..

Kadang sampai tak pejamkan mata

Agar mendapat restunya

…..

Aku sama sepertimu

Dzikir kulantunkan slalu

Demi bersatunya dua hati

Yang slalu merindu

…..

Aku sama sepertimu

Menanti terkabulnya doa

Tercipta bahagia dunia

tenrang cintaku

SAJAK

Kata – kata berantakan

Kurapikan menjadi sebuah sajak sederhana

Bercerita tentang cinta

Yang belum jua aku temukan

Aku menunggumu di setiap lembaran

Yang mulai usang karena coretan

Mulai kuyup karena hujan

Ntah kapan kutemukan

Sosok yang slalu kurindukan


MASIH SAJA

Cinta ini masih saja berbunga

Tak gugur karena musim

Tak layu karena kering
Sungguh, aku seperti berpasrah padamu

Mungkin benar,

Hatimu tempat berpijak inginku

Cinta ini masih saja berbunga,

Dan pasti akan slalu ku jaga


JANJI

Kudengar kabar tentangmu disini…

Aku lega, karena kau masih setia

Seperti ucapmu dulu
Menjaga ukiran cinta

Yang pernah kita cipta di taman bunga

Tenanglah,

selama matahari masih hangatkan cinta ini

tali ini akan abadi

biarkan duri,

Acuhi.

Love poetry


SELAMAT PAGI SAYANG

Selamat pagi sayang…

Inilah sajak untukmu,

Kurangkai dengan cinta,

Diantara kata-kata berloncatan

Membidik satu kemauan

Agar kau tetap jadi penghuni

Sang belahan hati

Selamat pagi sayang….

Mentari masih jadi saksi

Ketika jiwa ini berjanji


HARI CINTA

Ingatkah kau wahai belahan jiwa

Pengarung mimpi setiap malam tiba

Ada
gemericik tawa di sana

Menyambut datangnya hari cinta

Jemari ini begitu menginginmu

Seperti bibirmu yang memanggilku

Untuk bergelut penuhi sang waktu

Hari cinta

Sebuah kemenangan kita

Hingga tiada lagi jiwa tersiksa

Bahagia-hanya


SETIA

Inilah surga

Ketika dua mata berpadu

Camar mengumbar tawa

Dan kau masih tersipu malu

Aku tetap disini

Menjagamu hingga pagi

Seperti rasa di hati ini

Yang tak pernah mati

Aku yakin,

Terlalu yakin,

Tiada yang lain

Rindu dan Sajakku


HANYA

Hanya ini…

Hanya ini kasih,

Yang bisa aku beri

Sajak rindu terdalam hati

Hanya ini…

Kumpulan puisi menggebuku

Bersampul merah jambu

Yang kutahu, itu warna kesukaanmu

Hanya ini..

Sajak Rindu yang menggebu

Seperti deras kucuran darahku

Karna kuyakin kau telah pertaruhkan cintamu untukku…



PENGAHARAPAN

Suaraku tak lantang lagi
Seperti tembakan mati polisi

Tanganku tak lembut lagi

Tapi aku mampu menabur benih

Yang kankusulap saat kau disini

Lalu hati ini tergulung janji

Karena kau belum juga kembali



KAMAR

Jika tirai rindu menyelimuti

Aku hanya terdiam mencari sosokmu

Lalu membayangmu

Seolah kau disini

Beradu dengan nafas ini

Bersatu oleh sekat kamar

Dalam redup sang sinar

Kamis, 31 Juli 2008

Malaikat kecil dan puisi

KADO KECIL

Kado kecil ini memang untukmu

Kubeli di outlet murahan

Dengan setumpuk recehan

Yang kukumpulkan,bertaruh puasa sebulan

Inilah yang kujanjikan

Kado kecil di hari penuh sayang
Begitu kan kata orang?

Aku hanya mengikut saja

Karena memang benar kamu yang kusayang



LAGU RINDU

Awan menghitam

Jiwaku turut kelam

Puluhan lelayang

Bangkitkan rinduku terdalam

Hanya ada gambarmu disini

Dan selembar sajak yang tak mampu kumengerti

Aku diam, mengangguk

Kutelan kalimatmu

“Aku Pasti Kembali”



MALAIKAT KECIL & PUISI

Malaikat Kecilku

Datanglah di mimpiku

Seperti malam-malam lalu

Bertemankan angin hangat

Puisi…

Itulah dirimu

Indah untuk kunyanyikan

Menyayat untuk kulantunkan

Malaikat kecilku

Datanglah dimimpiku

Bersama puisi,

menyetiaiku

Berita Duka

HARI INI KAMI BERDUKA

Mawar_biru_7242006102801am_rose3

Hari ini kami berduka,

Sebab rengekan tangis yang lama terindu

Tinggal semu

Ayunan kayu di halaman rumah kami

Tak bergoyang, menunduk, pilu sungguh

Hari ini kami berduka

Sebab dua ratus delapan puluh hari

Terasa begitu lama, namun tak jua terdengar manja

Hari ini kami berduka

Sebab mata kecil dan mulut mungil

Menggenangkan perih

Terkujur kaku di rahim yang ingin terpanggil ibu

Kami kelu, tak ada lagi saksi di pemilu

Di rerimbun angin luruh menerpa

Menggulas rasa,

Karena hari ini kami berduka


Yogya, 2004

Kartiniku

ANGIN APRIL

: Kartini


Tin,

hari ini aku melihat wajahmu lagi

seperti waktu waktu usang

di layar TV dan koran pagi

Waktu makin menua,

Tapi angin april lekat pada mereka

Bocah – bocah kecil dengan sanggul dan selendang

Bersorak menyuarakanmu

April beranjak

Dan, mereka yang menua

Kembali sibuk menyimpan gambarmu

Dibawah tumpukan koran bekas

puisi


Nikmati kata-kata sederhana dariku...

Malam terasa kalut, enggan menyapa pagi, karena pagi hanya sunyi,tak hadirkan semerbak wangi...

Aku mengulum waktu,melepas gelayut tentangmu,hati masih malas, tapi jiwa inginkan lepas...



IMAJI

Aku terengah merindukanmu

Di puluhan malam yang tanpamu

Kuberlari temukan bayangmu

Tak juga bisa memelukmu

Sepi….

Sungguh kerdil diri ini

Coba menggapai cinta

Kekasih tiada…